Sejarah
PENDAHULUAN
Pada tahun 1941 Dewan Kabupaten (Volka Read) Bangkalan, Pamekasan dan sumenep (Sampang pada itu berstatus Kawedanan dan merupakan bagian dari Kabupaten Pamekasan) mengajukan resolusi yang mendesak Pemerintah Belanda untuk membuka MULO (Middlebare Uitgebreit Lagere Onderwijs) di Madura, sebab sekolah-sekolah yang dapat menyeplai murid-murid lulusannya dinggap cukup memadai, yakni: 4 buah HIS (Holland Inlandse School) Pemerintah, 1 buah HIS Katholik, 1 buah HIS Protestan (Oranje School), 4 buah taman siswa, dan 1 buah HIS Nasional pimpinan perintis kemerdekaan Moh. Tabrani.
Betapapun pada prinsipnya Pemerintah Hindia Belanda menyetujui isi resolusi tersebut, namun pembukaan sekolah tak dapat dikabulkan oleh Dept. O & E (Departement Van Onderwijs and Eridienst) di Batavia, karena tak ada biaya untuk membangun gedungnya.
Secara bersamaan waktu itu Bupati pamekasa Raden Ario Abdoel Azis dengan uang pribadinya sedand membangun gedung di desa Jungcangcang jalan R.A. Abd. Azis sekarang yang direncanakan untuk membuka HIS swasta dengan Neutrale HIS. Mendengar kemelut pendirian MULO, maka akhirnya gedung tersebut diserahkan kepada pemerintah, sehingga hambatan utama dapat teratasi.
Tepat pada tanggal 1941 resmilah MULO dibuka dengan staf pengajar yang seluruhnya orang-orang Belanda. Gedung MULO terdiri dari 5 buah kelas, 1buah kantor, 1 buah Aula, 1 buah gudang, dan beberapa WC/wirinoir.
KELAHIRAN SMP
Pada pertengahan bulan Mei 1943 Bapak Raden Ario Abdoel Azis Moetallip Djojonegoro yang pada saat itu mengajar di SMP 1 jalan Gelria Bandung dipanggil Kantor Pengajaran (Bunkoo Kyoku) di Jakarta, dan diperintahkan kepada beliau untuk mendirikan SMP di Pamekasan yang langsung dibawahi Kantor Pengajaran (bukan milik Karesidenan Madura), walaupun pembukaan SMP ini adalah atas dasar permintaan Syuuchookan (Residen) Madura yang pada saat itu dijabat oleh tuan Nakaya, seorang Jepang simpatik, sopan dan ramah.
Akhir Mei 1943 Bapak Djojonegoro tiba di Pamekasan, dan setelah dirundingkan secara matang dengan dibantu oleh 2 orang guru yakni Bapak Sono Malang Judo dan Bapak Moerjono HA serta seorang pembantu sekolah Moh. Dimin akhirnya skolah tersebut dapat dibuka sebanyak dua kelas dengan menempati gedung bekas Eropese Lagere School (EIS) di Balaikambang (SLTP 2 Sekarang).
Sekolah yang sedianya dibuka pada tanggal 1 Juli 1943 akhirnya baru terlaksana pada 23 Juli 1943, karena ada hambatan yang berupa ”keributan kecil” dengan Syuuchookan.
Dalam pembukaan tersebut Syuuchookan menghendaki tambahan satu kelas atas prakarsanya untuk menampung murid-murid tertentu (mungkin ada tendensi khusus guna membentuk kader-kader yang pro Jepang), namun ternyata Kantor Pengajaran tak menyetujuinya.
Dalam pendiran sekolah tersebut Bapak Djojonegoro memberikan nama SEKOLAH MENENGAH PERTAMA PAMEKASAN dan dituliskan dalam sebuah papan nama didepan gedung, namun Syuuchookan tak menyetujuinya dan merubah nama tersebut, menjadi MADOERA CHUGAKKO yang ditulis dengan huruf Jepang (huruf kanji) pada sebuah papan besar.
Walaupun sekolah tersebut bernama Chugakko namun masyarakat tetap menyebutnya SMP PAMEKASAN.
Beberapa bulan kemudian sekolah tersebut memperoleh guru yakni Nn. Supartinah (sekarang ibu janda Maramis dan Bapak Roesidi (beliau tak lama mengajar karena dikirim ke Jepang).
Guna menghindari penyimpangan-penyimpangan, maka SMP tersebut diawasi secara ketat oleh pemerintah Jepang dengan menunjuk orang-orang antara lain: Kamijo, Kurata, Baba dan lain-lain sebagai pengawas.
Pelajaran berjalan seperti biasa dengan bahasa Jepang sebagai bahasa pengantar. Jadi di guru dan murid belajar dalam waktu bersamaan, sedangkan olahraga ditekankan pada ” Pendidikan Kemiliteran” dengan tambahan beban kerja bakti (Kinrohosyi) berupa kegiatan kerja membantui petani disawah/ladang dan lain sebagainya.
Sejak 1 April 1944 Kantor Pengajaran menyrahkan sekolah tersebut pada Syuuchokan, dan pada bulan September tahun itu juga SMP dipindahkan ke gudung ex. MULO di jalan RA. Abd. Azis sekarang.
Tahun ajaran Jepang berjalan dari 1 April sampai 31 Maret tahun berikutnya, dan pada bulan Maret 1944 (tahun Showa 2604) SMP mengadakan kenaikan kelas. Pada 1 April 1945 SMP menerima murid baru lagi sebanyak 2 kelas dengan tambahan guru yakni: Bp. Soedarlan, Nn. Soekarlinah, Bp. R. Abd. Djoemali Tjokrosoeseno, Bp. Abd. Rasyid, Bp. Soedirdjo, dan Bp. Moh. Halil.
Kemudian pada tanggal 17 Agustus 1945 hari kemerdekaan pun tiba, dan tahun ajaran Jepang diganti dengan permulaan ajaran Republik yakni 1 Juli 1946. Saat itu SMP telah menamatkan murid pertamanya yang dinyatakan lulus semua, sedangkan ijazahnya diberikan bulan september 1946.
PATAH TUMBUH HILANG BERGANTI
Pada tanggal 16 Oktober 1946 Bapak Djojonegoro diangkat sebagai Inspektur Sekolah Rakyat dan sekolah Guru Jawa Timur, sehingga pimpinan sekolah diserahterimakan kepada Bapak Moh. Halil. Bapak Djojonegoro terakhir pensiun selaku pimpinan kursus-kursus B.I. Jawa Timu, sedangkan Bapah Moh. Halil pensiun sebagai kepala SMA Bangkalan (sebelumnya beliau menjabat SMA Pamekasan dan Riau). Guru-guru yang diangkat dalam periode ini ialah: Bp. Rachem Siswo Pranoto, Bp. Tajudin, Ny. Nurah Tajudin, Bp. Djajisman, dan Bp. Tjokrosoedar (Sampang) dan Bp. Iskandar (Sumenep).
Pertengahan September 1947 Belanda menduduki Madura, dan SMP dengan masa pendidikan 3 tahun dirubah 4 tahun dengan tambahan bahasa Belanda sebagai bahasa wajib.
Bapak Halil memimpin sekolah tidak lama, karena pada pertengahan 1949 beliau diangkat sebagai Inspektur Sekolah Rakyat pada Departemen Pendidikan Negara Madura, dan pimpinan SMP diserahterimakan kepada Bapak Djajisman yang memangkunya hingga tahu 1951, karena beliau diangkat sebagai guru SMA Pamekasan (terakhir beliau menjabat Kepala SMA/SGA Pontianak dan SMA Surabaya. Guru-guru yang berdatangan pada periode ini ialah: Bp. R. Miftachol Abidin, Bp. Soemo, dan Bp. Abd. Majid.
Pimpinan berikutnya dalah Bp. K. Moh. Wasik, pindahan dari SMP Mojokerto dan menjabat di sekolah ini hampir 19 tahun (awal tahun 1951 – akhir 1969). Guru-guru yang berdatangan pada periode ini ialah: Siti Rochani, Sufiati, Hary Sujanto, Supardi, Azis Moeiman, Mochsin Jusuf, Assenan, Sutikno, Zainal Arifin, Moestadji, M. Eksan, Suprapti, Showi, Ach. Hambali, Koesminingsih, Sukatman, Suharmini, M. Asid, Said, Rifai, Nasirudin, Moh. Munir, M. Djasari, Moh. Aief, Sjamsudin, Ach. Afandi, Moh. Djamaludin, Umar Firdaus, Nurul Hasanah, sedangkan guru yang senior mulai memasuki masa pensiunnya. Guru-guru yang terorbit adalah Bp. Abd. Rasjid sebagai Kepala SGB (kemudian Kepala SMP 2, Kepala SGA/SPG dan pensiun), Bp. Murachman (Kepala SMP Kamal). Awal tahun 1969 Bapak K. Moh. Wasik memasuki MPP dan pimpinan sekolah dijabat Bp. Zainal Arifin sebagai Care Taker hingga akhir Desember dan awal Januari 1970 diorbitkan sebagai kepala SMP 1 Bangkalan.
Sejak tahun 1970 sekolah ini dinahkodai oleh Bp. Sukardhy Asmara. Periode ini bisa dikategorikan sebagai peralihan dari pola Pembangunan/Pendidika lama menuju modernisasi diberbagai bidang. SMP unit baru bermunculan khususnya diwilayah kecamatan. Setelah kepemimpinan ini silih berganti datang kepala sekolah (lihat periodisasi di bawah...!).
Beliau pulalah yang telah menghubungi dan sowan kepada pini-sepuh yang mengetahui seluk-beluk (sejarah) sekolah ini yang kisahnya antara lain telah kami kutip sebelumnya dalam buku ini.
PERIODISASI KEPALA SEKOLAH
1. R. ABDOEL MOETALLIB DJOJONEGORO
Akhir Mei 1943 – Medio Oktober 1946
2. MOH. HALIL
Medio Oktober 1946 – Pertengahan 1949
3. DJAJISMAN
Awal 1949 - 1951
4. K. MOH. WASIK
Awal 1951 – awal 1969
5. ZAINAL ARIFIN
Care Taker Kepala Sekolah, Awal 1969 – awal 1970
6. R. SOEKARDY ASMARA
Awal Januari 1970 – Oktober 1983
7. SJAMSURI
Oktober 1983 – Nopember 1988
8. SHOWI, B.A.
Nopember 1988 – Juni 1992
9. Drs. SOEHARTO
September 1992 – Juni 1995
10. H. SJAMSUDIN, B.A.
6 Juni 1995 – sekarang
